Minggu, 17 September 2023

Silsilah Trah Wiranatakusumah Bandung Berasal dari Prabu Siliwangi

01. Prabu Siliwangi Sribaduga Maharaja adalah Raja Kerajaan Padjajaran yang berhasil menyatukan Kerajaan Sunda dan Galuh menjadi satu, dan Kerajaan berpusat di Ibukota Pakuan (Bogor sekarang). Dari salah satu isterinya yang bernama Dewi Tejamantri yang seorang Puteri Dalem Sumeren Patih Kerajaan Timbanganten (asal Garut) yang berlokasi di Ukur Bandung, kemudian Prabu Siliwangi mempunyai seorang anak laki laki yang diberi nama Sang Permana Di Puntang, yang sekaligus menjadi saudara tiri lain ibu dari Prabu Walangsungsang, Nyi Mas Rara Santang, Prabu Kian Santang dan Prabu Surawisesa. 

02. Sang Permana Di Puntang mengandung arti Putera Lelaki Bagai Purnama Di Gunung Puntang. Sepeninggal Patih Dalem Sumeren Kerajaan Timbanganten, Sang Permana Di Puntang menjadi Raja Kerajaan Timbanganten Kedua, dan mempunyai julukan lain yaitu, Sunan Godog Burung Baok. Beliau meninggal dan dipusarakan di Dayeuh Manggung, Garut. 

03. Sunan Paten Ramadewa yang juga dikenal sebagai Sunan Darma Kingking Raja Kerajaan Timbanganten Ketiga adalah Putera Sang Permana Di Puntang, yang setelah wafat dipusarakan di Dayeuh Manggung, Garut.

04. Sunan Ranggawale Raja Kerajaan Timbanganten Keempat adalah Putera Sunan Darma Kingking yang setelah wafat dipusarakan di Cikamiri, Garut.

05. Dalem Tumenggung Mataun Raja Kerajaan Timbanganten Kelima, yang setelah wafat dipusarakan di Timbanganten, Garut.

06. Raden Tumenggung Wiranatakusumah Raja Kerajaan Timbanganten Keenam, yang setelah wafat dipusarakan di Cangkuang, Leles, Garut.

07. Raden Tumenggung Wira Angun Angun (Bupati Bandung Kesatu). Nama beliau adalah Raden Ki Astamanggala, yang kemudian diperintahkan oleh Sultan Agung Mataram Islam untuk menjadi pemimpin daerah Ukur Bandung yang pada saat itu berpusat di Dayeuhkolot atau Dalem Tarikolot, Bandung. Tumenggung Wira Angun Angun ini adalah salah satu Tumenggung wilayah Tata Ukur Bandung yang pada saat itu berhasil melumpuhkan Adipati Ukur (Dipati Ukur) yang menolak tunduk pada Mataram Islam. Raden Tumenggung Wira Angun Angun setelah wafat dipusarakan di Dayeuhkolot, Bandung.

08. Dalem Ardi Kusumah (Bupati Bandung Kedua), yang setelah wafat dipusarakan di Tenjolaya, Garut.

09. Dalem Anggadireja I (Dalem Timbanganten - Bupati Bandung Ketiga), yang setelah wafat dipusarakan di Gordah, Tarogong, garut.

10. Dalem Anggadireja II (Bupati Bandung Keempat)Setelah wafat dipusarakan di Dayeuhkolot, Bandung. 

11. Dalem Anggadireja III (Bupati Bandung Kelima). Setelah beliau menjadi Bupati Bandung kemudian bergelar R.A.A Wiranatakusumah I. Setelah wafat dipusarakan di Dayeuhkolot, Bandung.

12. R.A.A Wiranatakusumah II (Bupati Bandung Keenam), setelah menjadi Bupati Bandung kemudian dijuluki sebagai Dalem Kaum Bandung, karena berhasil memindahkan Pusat Ibukota dari Dayeuhkolot ke Kota Bandung sekarang ini. Setelah wafat dipusarakan di Dalem Kaum Bandung, belakang Masjid Agung Bandung, Alun Alun Bandung. Bupati Bandung Keenam ini berhasil membangun Kota Bandung sesuai Adat Tradisional Sunda - Jawa dengan sistem Catur Catra, yaitu dibangunnya Pendopo, Masjid Agung, Alun Alun dan Pasar Tradisional. Salah satu peninggalannya yang terkenal adalah Sumur Bandung, sebuah Sumur yang dikeramatkan di Kota Bandung yang sekarang berada di Gedung PLN Bandung. Salah satu Keturunan R.A.A Wiranatakusumah II yang dipusarakan di Kompleks Makam ini adalah Ibu Popon Wiranatakusumah, yang tidak lain adalah Nenek dari Artis Raffi Ahmad.

13. R. Adipati Wiranatakusumah III (Bupati Bandung Ketujuh), setelah menjadi Bupati dan wafat kemudian bergelar Dalem Karang Anyar. Setelah wafat dipusarakan di Kompleks Makam Dalem Karang Anyar, Karang Anyar, Bandung.

14. R. Adipati Wiranatakusumah IV (Bupati Bandung Kedelapan). Setelah menjadi Bupati Bandung kemudian bergelar Dalem Bintang karena mendapatkan banyak penghargaan. Setelah wafat dipusarakan di Bandung.

15. R. Adipati Kusumahdilaga (Bupati Bandung Kesembilan)yang tidak lain adalah adik dari R. Adipati Wiranatakusumah IV yang pada saat itu dinilai keturunannya sama sekali tidak ada yang layak jadi penerus kepemimpinannya, karenanya posisi Bupati Bandung kemudian diturunkan kepada adiknya yaitu, R. Adipati Kusumahdilaga, namun beliau tidak bergelar Wiranatakusumah. Setelah wafat dipusarakan di Bandung.

16. R.A.A Marttanegara (Bupati Bandung Kesepuluh). Beliau adalah keturunan Bangsawan/Ningrat/Menak Kerajaan Sumedang Larang, orangtuanya adalah R. Adipati Kusumahdilaga yang menikah dengan Raden Tejamirah. R.A.A Martanegara kemudian menikah dengan Nyai Raden Radjaningrat yang seorang Puteri Keraton Sumedang Larang, Puteri dari Pangeran Suria Kusuma Adinata (Pangeran Sugih), Bupati Sumedang Larang, yang sekaligus merupakan cucu dari Pangeran Cornel. Sementara itu, Kakeknya R.A.A Martanegara adalah seorang Bupati Sumedang Larang Ketiga Puluh Satu juga yang bernama Tumenggung Suriadilaga atau Dalem Sindangraja. Beberapa prestasi beliau adalah berhasil membuat Wawacan Angling Darma, Wawacan Batara Rama, Babad Sumedang, hingga mendirikan proposal Sekolah Puteri yang diprakarsai oleh Raden Ajeng Dewi Sartika. Setelah wafat R.A.A Martanegara dipusarakan di Kompleks Pemakaman Gunung Puyuh, Sumedang. 

17. R.A.A Wiranatakusumah V. Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia yang pertama. Sewaktu pembentukan RIS (Republik Indonesia Serikat), beliau pernah menjabat pula sebagai Wali Negara Pasundan, selain itu beliau juga merupakan Bupati Bandung Kesebelas yang memiliki karir politik cemerlang di tanah air, selain pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua DPA (Dewan Pertimbangan Agung) pada masa Kepresidenan Ir. Sukarno. Beliau dikenal sangat agamis dan dekat dengan Raja Kerajaan Arab sehingga dijuluki juga sebagai Dalem Haji. Setelah wafat beliau dipusarakan di Jakarta. 

18. R. Tumenggung Hasan Sumadipraja Bupati Bandung Keduabelas. Setelah wafat beliau dipusarakan di Bandung.

19. R.A.A Wiranatakusumah V.Bupati Bandung Ketigabelas. (Profil sama dengan No. 17).

20. Raden Tumenggung Endoeng Soeriaputera Koesomah Adinata. Bupati Bandung Keempatbelas. Sebelum menjabat sebagai Bupati Bandung beliau terlebih dahulu menjabat sebagai Bupati garut Ketujuh. Beliau adalah Keturunan Dalem Kaum Bandung dan Keturunan Bupati Sumedang Larang. Beliau wafat dipusarakan di Pemakaman Keluarga Cibeureum, Soreang, Kabupaten Bandung.

21. Wiranatakusumah VI. Bupati Bandung Kelimabelas. Beliau dijuluki sebagai Aom Male Wiranatakusumah, yang sekaligus adalah Putera dari R.A.A Wiranatakusumah V. Setelah wafat beliau dipusarakan di Jakarta.

Senin, 11 September 2023

Sukarno Putera Dalem Paku Buwono X

Pada seminar “Bung Karno Sebagai Pewaris Zamannya” yang diadakan oleh Akademi Jakarta di Cemara 6 Galeri-Museum 27 Juni 2019, Prof. Dr. Toeti Heraty mengutip buku Paku Buwono X: 46 Tahun Berkuasa di Tanah Jawa ([2014] karya Gunawan Sumodiningraf dan Ari Wulandari), bahwa Soekarno adalah anak dari Pakubuwono X (baca buku Paku Buwono X). 


Penasehat Spiritual Kraton Surakarta KPH Karyonagoro. Menurutnya, dari berbagai penelusuran yang dia lakukan ternyata Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno yang akrab disapa Bung Karno adalah anak kandung dari raja Kraton Surakarta, Sunan Pakubuwono X (PB X). Dalam wawancara khusus dengan wartamerdeka.com, Kamis (14 Mei 2015), Kanjeng Karyonagoro mengungkapkan, PB X mengambil “garwa ampil” (selir) pada tahun 1900 seorang putri bernama Ida Ayu Nyoman Rai, adalah putri Raja Buleleng, Bali. Ayahanda Soekarno sejatinya adalah Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X. Nama kecil Soekarno adalah Raden Mas Malikul Koesno. Beliau termasuk "anak ciritan" dalam lingkaran keraton Solo.”

Bung Karno adalah anak hasil dari hubungan antara Sinuwun PB X dengan selir atau wanita luar yaitu wanita gadis Bali. Dimana waktu itu Sinuwun PB X sebagai seorang raja biasa mengadakan kunjungan-kunjungan kerja kerajaan ke berbagai wilayah.

Saat itu PB X sedang kunjungan ke daerah Bali. Lalu di Bali Sinuwun PB X bertemu dan berkenalan dekat dengan seorang gadis cantik Bali bernama Ida Ayu Rai hasil dari hubungan itu kemudian Ida Ayu hamil. Kemudian Sinuwun PB X kembali ke Surakarta dan berjanji akan tetap mengurusi dan menghidupi Ida Ayu sampai melahirkan.

Karena Ida Ayu tetap di Bali tidak mau diajak ke keraton Surakarta maka Sinuwun PB X mengutus dan memberikan tugas seorang Abdi Dalemnya ke Bali bernama Pak Sukemi untuk mengawasi, mengawal dan mengurusi kebutuhan hidupnya Ida Ayu hingga melahirkan. Setelah Ida Ayu melahirkan di Surabaya seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama oleh pak Sukemi Koesno Sosrodihardjo lahir di Surabaya 6 Juni 1901 atau Soekarno.

Kenapa Koesno? Karena Koesno adalah nama kecil dari Sinuwun PB X yang bernama Malikul Kusno. Ternyata setelah itu Sinuwun PB X memerintahkan agar pak Sukemi abdi dalemnya untuk menikahi Ida Ayu. Akhirnya masa kecil Soekarno hidup diluar keraton bersama orang tuanya (Ibu Ida Ayu dan Bapak Sukemi) di Bali hingga dewasa.

Dari jalur ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, Sukarno mendapatkan trah bangsawan Bali. Gde Pasek Suardika dan ‎Izarman dalam buku Bung Karno, Saya Berdarah Bali (1998) menyebutkan. Kemudian Soekarno mewarisi sebilah keris dari kakeknya (ayahanda Ida Ayu Nyoman Rai). Keris itu diwariskan turun-temurun di keluarga Bale Agung yang masih keturunan Raja Buleleng, termasuk pernah digunakan kakek Sukarno saat menghadapi penjajah Belanda.

Walaupun Bung Karno tidak melegitimasi dan mengakui dirinya sebagai keturunan bangsawan Mataram atau putra raja. Tapi Soekarno nama gelarnya ikut-ikutan seperti gelar bapaknya Sinuwun PB X. Gelar Paku Buwono X adalah gelar yang terpanjang sepanjang sejarah raja Mataram.

Gelar PB X adalah "Ingkang Sinuwun Sampeyan Ingkang Dalem Ingkang Wicaksono Senopati Khalifatullah Ingngalogo Abdurrahman Sayidin Panotogomo Pakubuwono Ingkang Kaping Sedoso Pakubuwono ke X".

Gelar Raja Paku Buwono X kemudian ditiru oleh Bung Karno yaitu beliau menamakan dirinya dengan gelar sebagai, "Pemimpin Besar Revolusi, Paduka Yang Mulia, Penyambung Lidah Rakyat, Panglima Tertinggi Angkatan Perang, Presiden Seumur Hidup, Ir. H. Soekarno."

Ada wasiat Sinuwun PB X yang pesan itu disampaikan kepada orang yang dipercaya dari putra kesayangannya yaitu GPH. Soerio Hamidjoyo. Bunyi pesan Paku Buwono X tersebut adalah "Aku mendapatkan dawuh dari Allah dan leluhur kelak ada anak keturunanku yang bakal menjadi raja atau pemimpin negeri nusantara ini."


#SalamUniversal 

Novel Universal Indigo